Multikultur Indonesia dalam
Film Demi Ucok tahun 2012
Gambar 1 cover film Demi Ucok
Film
Demi Ucok (2012) yang disutradarai oleh Sammaria Simanjuntak bercerita
tentang perselisihan ibu dan anak. Film ini semacam
autobiografi dari sang sutradaranya sendiri. Mak Gondut, seorang janda yang memiliki seorang anak perempuan bernama
Glo. Glo yang bermimpi menjadi sutadara terkenal tidak ingin menjadi seperti
ibunya yang melupakan impiannya saat setelah menikah. Glo
yang sudah dewasa, belum juga ingin menikah dan bahkan dirinya
belum memiliki pacar. Dia selalu menolak ketika ingin
dijodohkan oleh ibunya. Mak Gondut yang
divonis oleh dokter bahwa hidupnya tak lama lagi pun
terus berusaha mencarikan jodoh
untuk anaknya agar cepat menikah.
Berikut bisa kita lihat kutipan percakapan antara
Mak Gondut dan Glo.
Mak
Gondut : Kawin dulu lah kau, baru kejar
mimpi-mimpi…
Gloria : Ga mau,
Glo ga
mau hidup menjadi sia-sia. Glo mau mengejar mimpi.
Mak Gondut : Egois sekali itu, hidup
harus untuk sesama. Baru itu namnya hidup yang berarti.
Kutipan dialog di atas menggambarkan perselisihan
ibu dan anak yang akan menjadi konflik film ini sejak awal hingga akhir.
Konfliknya terbilang sederhana namun bisa jadi justru malah mengena dibenak
banyak orang. Mulai dari persoalan anak muda yang asyik dengan mimpi-mimpinya, sementara
orang tua terus mempertanyakan soal jodoh.
Latar
belakang budaya Batak menjadi daya tarik tersendiri dalam
film ini. Seperti halnya musik gondang dan penampilan Mak
Gondut yang memakai kain ulos khas Batak. Selain itu
juga di film ini terdapat selingan cuplikan pernikahan adat Batak.
Dalam
film ini juga terdapat teori
etnosentrisme yang merupakan pandangan bahwa budaya seseorang lebih unggul
dibandingkan budaya lainnya.
Pandangan bahwa budaya lain dinilai berdasarkan standar budaya kita. Seperti kata Mak Gondut yang menganggap bahwa orang Batak lebih baik
daripada orang lain yang tidak memiliki darah Batak.
Gloria :
Kenapa
harus sama orang Batak? (Tanya Glo saat mak Gondut menyarankan
dia untuk segera menikah dan harus sesama Batak)
Mak Gondut : Ibarat
anjing, kalau ras nya sama, keturunannya akan baik. Seseorang dilihat juga dari
keturunanya.

Gambar 2 Mak Gondut menyarankan Glo
untuk menikah dengan lelaki Batak
Di film ini juga terlihat jelas unsur
multikuturalismenya yang sangat kuat. Glo memiliki teman keturunan Chinese
yaitu Niki dan Acun. Keakraban Glo dengan
teman-temannya itu, memperlihatkan keberagaman dan perbedaan kepercayaan yang ada dalam
masyarakat. Namun, mereka mengakui perbedaan tersebut dengan cara saling menghormati
dan toleransi, tidak membeda-bedakan unsur etnis, keyakinan dan kepercayaan yang dianut.
Gambar 3 keakraban antara Mak
Gondut, Glo, Niki dan Acun
Dalam
teori, multikulturalisme merupakan sebuah
kepercayaan yang menyatakan bahwa kelompok-kelompok etnik atau budaya (ethnic and cultural group) dapat hidup
berdampingan secara damai dalam prinsip co-existence
yang ditandai oleh kesediaan untuk menghormati budaya lain (Sparringa dalam Forum Rektor Indonesia, 2003:17). Ciri lain yang bisa dijumpai dari masyarakat multikultur adalah
adanya kecenderungan diantara masing-masing suku bangsa untuk mengekspresikan
identitas budaya mereka melalui cara-cara yang spesifik, seolah-olah satu
dengan yang lainnya tidak saling berhubungan. (Suparlan,2008:34). Contohnya
saja adanya perlakuan diskriminatif kelompok suku bangsa mayoritas pribumi
terhadap kelompok mayoritas Tionghoa, mulai dari yang terberat sekalipun.
Permasalahan
serius yang dihadapi Indonesia sebagai negara
multikultur adalah ancaman antar suku, ras,
dan agama. Sumber konflik ini sering kali berawal pada klaim bahwa ada golongan
tertentu yang lebih baik dan unggul dibandingkan dengan kelompok lain. Kelompok
dominan biasanya menjadi pihak yang paling diuntungkan.
Namun masalah heterogenitas tersebut mampu memfungsikan semua elemen bangsa
dalam kesadaran fundamental “Bhineka Tunggal Ika”. Ini merupakan ungkapan yang
sangat baik untuk memandang keragaman kebangsaan Indonesia sehingga keutuhan
sebuah peradaban di Indonesia benar-benar terjadi. Konsep dan elemen dasar
wawasan kebangsaan adalah kemajemukan masyarakat yang multikultur (Afif, 2012:45).
Kelompok-kelompok
yang ditonjolkan dalam film ini merupakan kelompok budaya Batak. Di film ini
Mak Gondut ingin menjodohkan Glo dengan seorang laki-laki yang juga berketurunan
Batak. Terlihat kelompok-kelompok etnik dan budaya tertentu ingin tetap eksis dan ingin
melestarikan budaya dan keturunan. Lalu film ini juga menampilkan kekerabatan
antara budaya Batak saat dimunculkannya sekilas scene tentang pernikahan budaya Batak.
Beberapa
adegan membutuhkan konteks pemahaman stereotipe
budaya Batak yang beredar di masyarakat. Misalnya, Mak Gondut berkali-kali
menyatakan Glo harus mendapat laki-laki asli Batak bukan campuran. Ketika Nikki
(Saira Jeihan) teman Glo muncul di tengah keluarga Glo dan mengatakan kalau ia
masih keturunan Batak. Mak Gondut pun beropini
Mak Gondut : Lho,
kau Batak? Kok cantik?
Dari
dialog tersebut ada anggapan perbandingan tampilan fisik antara Nikki yang
merupakan Batak campuran lebih menarik dari Glo yang Batak tulen. Stereotipe yaitu kerangka berpikir kognitif yang
terdiri dari pengetahuan dan keyakinan tentang kelompok sosial tertentu dan
karaktek tertentu yang mungkin dimiliki oleh orang yang menjadi anggota kelompok (Judd,
Ryan & Parke dalam Byrne, 2003:230).
Ambisi
Mak Gondut sangat berlawanan dengan idealisme Glo yang memiliki tekad kuat
untuk mengejar cita-citanya menjadi sutradara film. Glo juga tidak ingin
bernasib sama dengan ibunya yang menikah, kemudian lupa
untuk bermimpi dan hidupnya menjadi membosankan. Mencapai mimpi memang tidak mudah,
baik itu mimpi Mak Gondut agar anaknya bisa kawin dengan pria Batak maupun
mimpi yang didambakan Glo, menjadi sutradara film. Namun masalah
yang dihadapi Glo adalah dia tidak memiliki dana untuk membuat film. Glo harus
menerima kenyataan susahnya mencari produser dan investornya.
Di
saat Glo mencari dana untuk filmnya, Mak Gondut menawarkan uang asuransinya
senilai satu milyar dengan syarat Glo harus menikah dengan laki-laki Batak
pilihannya. Glo pun kemudian harus membuat pilihan,
apakah memilih tawaran dari ibunya atau tetap berusaha
untuk
meraih cita-citanya membuat film dengan biaya sendiri. Konflik ini
kemudian melibatkan banyak pihak termasuk teman- teman Glo, yaitu Niki dan
Acun. Film ini juga berisi humor dan canda
yang ditampilkan dari kata-kata Mak Gondut yang tegas khas
Batak.
Namun, ada beberapa catatan
menarik dalam film ini. Pertama, Sammaria sang
sutradara berusaha menyampaikan kritik terhadap sineas
dan filmnya di tanah air. Berkali-kali di beberapa bagian Sammaria melalui Glo
menyatakan bahwa menjadi pembuat film itu duit yang didapatkan tak banyak, yang
banyak adalah pajaknya. Kedua, Sammaria juga menyampaikan bahwa sebagai pembuat film, sineas tak bisa lepas
dari kehidupan masyarakat. Sammaria menghadirkan kesaksiannya sebagai pekerja
fil sekaligus gadis Btak di tengah lingkungan dan adat Batak yang erat.
Di film Demi
Ucok ini kita disuguhkan beberapa informasi mengenai kebudayaan Batak yang
disajikan secara umum dan mudah dimengerti oleh siapa pun. Film tersebut berisi
kisah lucu yang menggelitik dan adegan yang bisa memancing emosi bagi para
penontonya.
Catatan menarik lainnya yang dapat
kita tangkap dari film ini adalah adanya perbedaan antara etnosentrisme dan
multikulturalisme. Etnosentrisme direpresentasikan dalam laku dan bicara Mak
Gondut sebagai wanita Batak yang menganggap sukunya yang paling baik, sementara
multikulturalisme digambarkan dalam hubungan Glo dengan teman-temannya dari
suku lain yang begitu fleksibel dan setara. Salah satu yang membuat sebuah film
menarik adalah saat ada pesan moral terselip di dalamnya. Demi Ucok barangkali
di permukaan hanya nampak sebagai sebuah film romansa semi komedi yang
mengangkat stereotype suku Batak. Namun dibaliknya dapat kita petik pesan moral
mengenai Multikulturalisme. Bahwa permasalahan serius perbedaan etnis dan ras
di Indonesia tak seharusnya terjadi tatkala semua orang menyingkirkan
etnosentrisme. Sedikit banyak Demi Ucok mengajak kita mengingat kembali kadar
kebhinnekaan kita, kesadaran kita akan heterogenitas atau keberagaman suku
bangsa Indonesia. Glo dan pergaulannya dengan teman dari beragam suku mengajak
penonton menghayati kembali apa itu makna multikulturalisme.
Tulisan ini pernah diterbitkan di buku Mata Sinema pada tahun 2014 di Yogyakarta.
Penerbit: Buku Litera Yogyakarta
Tulisan ini pernah diterbitkan di buku Mata Sinema pada tahun 2014 di Yogyakarta.
Penerbit: Buku Litera Yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar