Kamis, 14 April 2016

Multikultur Indonesia dalam Film Demi Ucok tahun 2012
Gambar 1 cover film Demi Ucok

Film Demi Ucok (2012) yang disutradarai oleh Sammaria Simanjuntak bercerita tentang perselisihan ibu dan anak. Film ini semacam autobiografi dari sang sutradaranya sendiri. Mak Gondut, seorang janda yang memiliki seorang anak perempuan bernama Glo. Glo yang bermimpi menjadi sutadara terkenal tidak ingin menjadi seperti ibunya yang melupakan impiannya saat setelah menikah. Glo yang sudah dewasa, belum juga ingin menikah dan bahkan dirinya belum memiliki pacar. Dia selalu menolak ketika ingin dijodohkan oleh ibunya. Mak Gondut yang divonis oleh dokter bahwa hidupnya tak lama lagi pun terus berusaha mencarikan jodoh untuk anaknya agar cepat menikah. Berikut bisa kita lihat kutipan percakapan antara Mak Gondut dan Glo.
Mak Gondut : Kawin dulu lah kau, baru kejar mimpi-mimpi…
Gloria            : Ga mau, Glo  ga  mau hidup menjadi sia-sia. Glo mau mengejar mimpi.
Mak Gondut : Egois sekali itu, hidup harus untuk sesama. Baru itu namnya hidup yang  berarti.

 Kutipan dialog di atas menggambarkan perselisihan ibu dan anak yang akan menjadi konflik film ini sejak awal hingga akhir. Konfliknya terbilang sederhana namun bisa jadi justru malah mengena dibenak banyak orang. Mulai dari persoalan anak muda yang asyik dengan mimpi-mimpinya, sementara orang tua terus mempertanyakan soal jodoh.
Latar belakang budaya Batak menjadi daya tarik tersendiri dalam film ini. Seperti halnya musik gondang dan penampilan Mak Gondut yang memakai kain ulos khas Batak. Selain itu juga di film ini terdapat selingan cuplikan pernikahan adat Batak.
Dalam film ini juga terdapat teori etnosentrisme yang merupakan pandangan bahwa budaya seseorang lebih unggul dibandingkan budaya lainnya. Pandangan bahwa budaya lain dinilai berdasarkan standar budaya kita. Seperti kata Mak Gondut yang menganggap bahwa orang Batak lebih baik daripada orang lain yang tidak memiliki darah Batak.
Gloria              : Kenapa harus sama orang Batak? (Tanya Glo saat mak Gondut menyarankan dia untuk segera menikah dan harus sesama Batak)
Mak Gondut   : Ibarat anjing, kalau ras nya sama, keturunannya akan baik. Seseorang dilihat juga dari keturunanya.

Gambar 2 Mak Gondut menyarankan Glo untuk menikah dengan lelaki Batak

Di film ini juga terlihat jelas unsur multikuturalismenya yang sangat kuat. Glo memiliki teman keturunan Chinese yaitu Niki dan Acun. Keakraban Glo dengan teman-temannya itu, memperlihatkan keberagaman dan perbedaan kepercayaan yang ada dalam masyarakat. Namun, mereka mengakui perbedaan tersebut dengan cara saling menghormati dan toleransi, tidak membeda-bedakan unsur etnis, keyakinan dan kepercayaan yang dianut.

                                            Gambar 3 keakraban antara Mak Gondut, Glo, Niki dan Acun

Dalam teori, multikulturalisme merupakan sebuah kepercayaan yang menyatakan bahwa kelompok-kelompok etnik atau budaya (ethnic and cultural group) dapat hidup berdampingan secara damai dalam prinsip co-existence yang ditandai oleh kesediaan untuk menghormati budaya lain (Sparringa dalam Forum Rektor Indonesia, 2003:17). Ciri lain yang bisa dijumpai dari masyarakat multikultur adalah adanya kecenderungan diantara masing-masing suku bangsa untuk mengekspresikan identitas budaya mereka melalui cara-cara yang spesifik, seolah-olah satu dengan yang lainnya tidak saling berhubungan. (Suparlan,2008:34). Contohnya saja adanya perlakuan diskriminatif kelompok suku bangsa mayoritas pribumi terhadap kelompok mayoritas Tionghoa, mulai dari yang terberat sekalipun.
Permasalahan serius yang dihadapi Indonesia sebagai negara multikultur adalah ancaman antar suku, ras, dan agama. Sumber konflik ini sering kali berawal pada klaim bahwa ada golongan tertentu yang lebih baik dan unggul dibandingkan dengan kelompok lain. Kelompok dominan biasanya menjadi pihak yang paling diuntungkan. Namun masalah heterogenitas tersebut mampu memfungsikan semua elemen bangsa dalam kesadaran fundamental “Bhineka Tunggal Ika”. Ini merupakan ungkapan yang sangat baik untuk memandang keragaman kebangsaan Indonesia sehingga keutuhan sebuah peradaban di Indonesia benar-benar terjadi. Konsep dan elemen dasar wawasan kebangsaan adalah kemajemukan masyarakat yang multikultur (Afif, 2012:45).
Kelompok-kelompok yang ditonjolkan dalam film ini merupakan kelompok budaya Batak. Di film ini Mak Gondut ingin menjodohkan Glo dengan seorang laki-laki yang juga berketurunan Batak. Terlihat kelompok-kelompok etnik dan budaya  tertentu ingin tetap eksis dan ingin melestarikan budaya dan keturunan. Lalu film ini juga menampilkan kekerabatan antara budaya Batak saat dimunculkannya sekilas scene tentang pernikahan budaya Batak.
Beberapa adegan membutuhkan konteks pemahaman stereotipe budaya Batak yang beredar di masyarakat. Misalnya, Mak Gondut berkali-kali menyatakan Glo harus mendapat laki-laki asli Batak bukan campuran. Ketika Nikki (Saira Jeihan) teman Glo muncul di tengah keluarga Glo dan mengatakan kalau ia masih keturunan Batak. Mak Gondut pun beropini
Mak Gondut   : Lho, kau Batak? Kok cantik?
Dari dialog tersebut ada anggapan perbandingan tampilan fisik antara Nikki yang merupakan Batak campuran lebih menarik dari Glo yang Batak tulen. Stereotipe yaitu kerangka berpikir kognitif yang terdiri dari pengetahuan dan keyakinan tentang kelompok sosial tertentu dan karaktek tertentu yang mungkin dimiliki oleh orang yang menjadi anggota kelompok (Judd, Ryan & Parke dalam Byrne, 2003:230).
Ambisi Mak Gondut sangat berlawanan dengan idealisme Glo yang memiliki tekad kuat untuk mengejar cita-citanya menjadi sutradara film. Glo juga tidak ingin bernasib sama dengan ibunya yang menikah, kemudian lupa untuk bermimpi dan hidupnya menjadi membosankan. Mencapai mimpi memang tidak mudah, baik itu mimpi Mak Gondut agar anaknya bisa kawin dengan pria Batak maupun mimpi yang didambakan Glo, menjadi sutradara film. Namun masalah yang dihadapi Glo adalah dia tidak memiliki dana untuk membuat film. Glo harus menerima kenyataan susahnya mencari produser dan investornya.
Di saat Glo mencari dana untuk filmnya, Mak Gondut menawarkan uang asuransinya senilai satu milyar dengan syarat Glo harus menikah dengan laki-laki Batak pilihannya. Glo pun kemudian harus membuat pilihan, apakah memilih tawaran dari ibunya atau tetap berusaha untuk meraih cita-citanya membuat film dengan biaya sendiri. Konflik ini kemudian melibatkan banyak pihak termasuk teman- teman Glo, yaitu Niki dan Acun. Film ini juga berisi humor dan canda yang ditampilkan dari kata-kata Mak Gondut yang tegas khas Batak.
Namun, ada beberapa catatan menarik dalam film ini. Pertama, Sammaria sang sutradara berusaha menyampaikan kritik terhadap sineas dan filmnya di tanah air. Berkali-kali di beberapa bagian Sammaria melalui Glo menyatakan bahwa menjadi pembuat film itu duit yang didapatkan tak banyak, yang banyak adalah pajaknya. Kedua, Sammaria juga menyampaikan bahwa sebagai pembuat film, sineas tak bisa lepas dari kehidupan masyarakat. Sammaria menghadirkan kesaksiannya sebagai pekerja fil sekaligus gadis Btak di tengah lingkungan dan adat Batak yang erat.
Di film Demi Ucok ini kita disuguhkan beberapa informasi mengenai kebudayaan Batak yang disajikan secara umum dan mudah dimengerti oleh siapa pun. Film tersebut berisi kisah lucu yang menggelitik dan adegan yang bisa memancing emosi bagi para penontonya.
Catatan menarik lainnya yang dapat kita tangkap dari film ini adalah adanya perbedaan antara etnosentrisme dan multikulturalisme. Etnosentrisme direpresentasikan dalam laku dan bicara Mak Gondut sebagai wanita Batak yang menganggap sukunya yang paling baik, sementara multikulturalisme digambarkan dalam hubungan Glo dengan teman-temannya dari suku lain yang begitu fleksibel dan setara. Salah satu yang membuat sebuah film menarik adalah saat ada pesan moral terselip di dalamnya. Demi Ucok barangkali di permukaan hanya nampak sebagai sebuah film romansa semi komedi yang mengangkat stereotype suku Batak. Namun dibaliknya dapat kita petik pesan moral mengenai Multikulturalisme. Bahwa permasalahan serius perbedaan etnis dan ras di Indonesia tak seharusnya terjadi tatkala semua orang menyingkirkan etnosentrisme. Sedikit banyak Demi Ucok mengajak kita mengingat kembali kadar kebhinnekaan kita, kesadaran kita akan heterogenitas atau keberagaman suku bangsa Indonesia. Glo dan pergaulannya dengan teman dari beragam suku mengajak penonton menghayati kembali apa itu makna multikulturalisme.

Tulisan ini pernah diterbitkan di buku Mata Sinema pada tahun 2014 di Yogyakarta.
Penerbit: Buku Litera Yogyakarta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar